THE SECRET OF INSPIRING COMPANY
0Friday, April 4, 2014 by zidniezou
Lagi
lagi penulisan artikel ini berawal dari ketertarikan saya tentang Brand Management yang diawali dengan
mempelajari tentang Brand Value dari berbagai global companies. Ada beberapa lembaga survey yang biasa memberikan
ranking pada berbagai perusahaan di dunia dengan berbagai jenis industry
kemudian merangkumnya dalam versi Top 100 atau Top 50 pada umumnya. Ada juga
lembaga survey yang memeringkatkannya per kategori industry saja misalnya dari
perusahaan kosmetik atau perusahaan otomotif saja. Yang paling menarik dari
mempelajari laporan Brand Value ini
adalah adanya pembahasan mengenai prediksi perkembangan setiap jenis perusahaan
ke depannya sehingga bisa memberikan gambaran trend industri nantinya.
Kali
ini saya ingin menulis artikel tentang The
Most Inspiring Company versi saya yang berisi mengenai rahasia mengapa
perusahaan ini bisa sangat sukses dan inovatif. Sebuah perusahaan yang bisa
dibilang mempunyai nilai-nilai yang hampir sama dengan nilai-nilai/ idealisme
hidup saya dan juga karena kesuksesannya dalam membangun perusahaannya. Bisa
dibilang ini perusahaan yang GUE BANGET, tapi bukan sekedar karena ini
perusahaan yang besar, terkenal, dan sukses. Everybody wants to work here. Bukan itu masalah utama saya
mengagumi perusahaan ini karena the way this
company builds and runs the business is just really inspiring me dan memacu
saya terutama dalam berpegang teguh terhadap sebuah idealisme yang kita pegang.
Kira-kira apakah anda tahu apa nama perusahaan ini? Try to guess it ya!
Awal
saya sangat tertarik dengan perusahaan ini adalah karena dalam beberapa versi
dari banyak lembaga survey, baik itu dalam hal Brand Value, Inovasi, Leadership,
dll hampir perusahaan ini menempati 3 besar bahkan mostly peringkat 1. Saya sebagai orang yang sosialis sebenarnya
kurang cocok dengan berbagai perusahaan yang sebagian besar mementingkan profit
dan penjualan diatas segalanya alias Kapitalis. Mereka menciptakan kemasan
perusahaan yang apik sehingga terlihat sangat sosialis dan professional padahal
ujung-ujungnya adalah menciptakan duit. Menurut saya program CSR (Corporate Social Responsibility) yang
ada di perusahaan sekarang hanyalah usaha untuk mendapat nama baik saja.
Berbeda dengan perusahaan yang memang benar-benar menjalankan bisnisnya secara
filantropis/ sosialis yang mendukung kepentingan sosial, lingkungan, dan
sustainability di dalam semua proses bisnisnya. Ya memang ini semua karena
beberapa perusahaan mempunyai stakeholders
yang selalu menuntut duit.
Yap,
akhirnya saya perlu menyebutkan perusahaan yang sangat menginspirasi saya yaitu
GOOGLE. Awalnya saya hanya ingin belajar mengenai rahasia suksesnya dengan
membeli beberapa buku. Saya ingin mengetahui bagaimana brand management dari Google yang bisa mempunyai brand value yang sangat tinggi. Acuan
utama penulisan artikel ini adalah dari buku INSIDE LARRY AND SERGEY’S BRAIN yang saya beli online di Gramedia.
Jadi mungkin ada sejumlah fakta atau angka yang berbeda dengan sumber lain.
Yang pasti, hal terpenting adalah perusahaan ini memberikan wawasan, motivasi,
dan yang utama adalah inspirasi. Dan, yang lebih penting lagi adalah semoga
anda terinspirasi dari artikel saya ini hehe
Larry
Page dan Sergey Brin adalah Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komputer di Stanford
University. Sebelumnya, Larry adalah seorang Sarjana Teknik dan juga sempat
mengambil beberapa kelas bisnis dalam program sarjananya. Sergey memperoleh gelar
sarjana ganda untuk Matematika dan Ilmu Komputer. Larry adalah Product Division Head di Google,
sedangkan Sergey adalah Technology
Division Head di Google. Larry adalah ahli strategi utama Google dengan
ketajaman bisnis dan gerakan praktisnya, sedangkan Sergey adalah ahli teknologi
dan idealis utama Google dengan gagasan brilian dan tingkat moral yang kuat. Mereka
berkolaborasi dengan baik seperti dua belahan otak yang saling melengkapi. Secara
tidak langsung, inilah resep pertama kesuksesan Google yaitu mempunyai partner
yang saling percaya dan melengkapi. Terbentuknya Google terinspirasi dari
proyek tugas kuliah mereka untuk pencarian makalah riset. Larry sebagai orang
yang mempunyai business insight yang baik menemukan peluang besar dari proyek
tugas kuliah mereka. Keduanya kemudian menyusun model bisnis untuk era internet
yang fokus pada pemasangan iklan kecil dengan harga murah sehingga
menguntungkan korporasi kecil dan individual daripada elite bisnis. Larry dan
Sergey adalah seorang yang idealis, mereka percaya bahwa internet bisa membuat
dunia menjadi tempat yang lebih baik.
Awal
ide pemasangan iklan yang digagas oleh Larry dan Sergey ternyata belum memenuhi
kebutuhan konsumen individual dan korporasi kecil karena pada waktu itu bisnis
masih dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar dimana perusahaan kecil dan
menengah masih minim. Proyek pilot Google selanjutnya berupa teknologi baru
yang dapat menemukan dokumen yang tepat (search
engine) di perpustakaan internet. Awalnya Larry dan Sergey tidak berniat
mengkomersilkannya. Dari sinilah sosok orang yang sosialis dan filantropisnya terlihat
(ini salah satu hal utama kenapa Google sangat menginspirasi saya karena
dinahkodai oleh dua orang yang sosialis/ filantropis, mereka bukan kapitalis
yang seringkali mengejar duit). Larry kemudian menambah gagasan mengenai search
engine-nya itu berupa penambahan tautan antar situs dan tautan terpopuler.
Craig Silverstein merupakan orang ketiga dibalik Google. Dia adalah karyawan
pertama Larry dan Sergey yang juga merupakan teman kuliah di jurusan yang sama.
Pada awalnya mesin pencari ini hanya bisa menganalisis 30-50 halaman/detik
hingga sekarang bisa jutaan halaman/detik. Pendekatan Google dalam konsep mesin
pencari ini adalah mengubah seluruh web menjadi suatu persamaan besar dengan
beberapa juta variable (pengembangan matematika untuk pemecahan masalah).
Pada
saat itu sekitar pertengahan tahun 1998, Yahoo! merupakan salah satu situs
internet pertama yang menguasai WWW dengan nilai saham US$100/ share hingga
mencapai nilai US$230/ share pada akhir 1999. Namun pada pertengahan 2000,
nilai sahamnya turun menjadi US$5/ share karena isu Y2K (Year to Kilo) yaitu perubahan tanggal dari 31 Desember 1999
(991231) menjadi 1 Januari 2000 (000101). Pada waktu itu, banyak orang/
perusahaan yang memperbaharui perangkat computer mereka karena mereka
menganggap bahwa 000101 berarti per tanggal 1 Januari 1900 yang bisa
menyebabkan kerusakan komputer. Kejadian ini menyebabkan saham perusahaan komputer
melambung tinggi padahal ternyata tidak ada dampak pada perangkat komputer
sehingga harga saham perusahaan komputer menjadi anjlok lagi pada pertengahan
2000 padahal baru saja melambung pada awal 2000.
Ini
adalah cerita awal sebuah kegagalan kecil yang menciptakan kesuksesan yang
hebat. Larry dan Sergey awalnya mau menjual teknologi mesin pencari ini kepada
mesin pencari lain. Namun, sayang sekali tidak ada perusahaan yang mau
membelinya karena alasan utama yaitu harga jual US$ 1 Juta yang terlalu mahal
untuk sebuah produk yang masi berupa konsep. Kalau saja pada waktu itu ada
perusahaan yang mau membelinya, sekarang ini pasti tidak ada yang namanya
Google. Inilah sebuah kegagalan kecil yang menciptakan kesuksesan yang hebat
yang saya maksud. Akhirnya, Google resmi didirikan pada 7 September 1998 di
sebuah ruang garasi dengan Larry Page sebagai 1st CEO Google. Ya, ini juga salah satu yang mengispirasi saya yang experience in failure bahwa kegagalan itu bukan suatu keterpurukan, namun jika kita bisa mengantisipasinya dengan baik maka kegagalan bisa menjadi kekuatan.
Kandidat
nama mesin pencari yang diciptakan oleh Larry dan Sergey pada awalnya adalah What Box. Namun nama ini terdengar
hampir sama dengan Wet Box yang
merupakan situs porno sehingga tereliminasi. Kemudian ada yang menyarankan
tentang lambang angka terbesar (Kasner) yaitu 10100 atau Googol.
Dari sinilah nama Google tercipta. Kawasan kompleks kantor Google pun diberi
nama Googleplex yang berasal dari kata Googolplex
atau 10 kali dari Googol. Selanjutnya,
setelah Larry dan Sergey gagal menjual mesin pencarinya, mereka mulai
merencanakan untuk mendirikan perusahaan teknologi sendiri. Investor awal pada
kala itu adalah Andy Bechtolsheim, David Cheriton (Profesor Stanford), Stanford
University (yang memegang hak paten PageRank hasil karya Larry), Ron Conway, dan
Ram Shiram (Amazon). Nilai awal perusahaan Google pada saat berdiri adalah US$
125 Juta dimana setiap US$ 12,5 Juta mendapat pengembalian 9%. Larry dan Sergey
merupakan pemegang saham mayoritas dalam perusahaan ini walaupun mereka tidak
secara langsung mengeluarkan uang ratusan juta dollar. Dari situ mereka mulai
berpindah-pindah kantor hingga ke Googleplex sampai sekarang. Dari sini saya
bisa sedikit menyimpulkan kenapa Google
is as big as now karena nilai awal perusahaan ini memang sudah sangat besar
pada awal berdirinya. Bisa dibilang ini resep kedua dari kesuksesan Google.
Berbicara
mengenai Google tentunya tidak akan habis dalam satu posting artikel ini saja. Halaman
yang saya tulis sampai baris ini hanya segelintir hal mengenai kehebatan
Google. Baik, rahasia ketiga Google adalah melakukan People Innovation dengan menciptakan tema kantor Google yang
sebagian bernuansa kampus dan sebagian bernuansa taman bermain. Google menciptakan
fasilitas kantor yang gak ada duanya dengan perusahaan lain. Fasilitas ini adalah
sebuah hadiah dari Google untuk karyawannya agar mempunyai semangat kerja yang
diharapkan bisa menciptakan inovasi dan sesuatu yang bernilai. Yap, Google
menciptakan atmosfer tempat kerja yang ramah dan bersemangat untuk meredam
tuntutan pekerjaan. Google selalu menyediakan makan gratis untuk karyawannya
selama di kantor. Hal ini untuk menciptakan produktivitas karena urusan perut
merupakan salah satu penyebab utama karyawan kurang produktif. Daripada membeli
makan siang di luar kantor yang membuang waktu, lebih baik menggunakan waktu
itu untuk berfikir tentang inoovasi atau sesuatu yang bernilai. Ide People Innovation ini diilhami dari
Larry karena pengalaman tidak mengenakan yang dialami Kakeknya ketika bekerja
di salah satu pabrik mobil di Flint, Michigan.
Kantor Google Jakarta (Sentral Senayan II)
Salah
satu kegagalan terbesar Google yang menciptakan kesuksesan yang lebih besar
adalah ketika melakukan IPO (Initial
Public Offering) atau Go Public
dengan mendaftarkan perusahaannya di lantai bursa pasar modal pada Agustus 2004,
lima tahun setelah berdiri. Namun, ternyata harga saham awal yang ditawarkan
US$ 108 – 105/ share membuatnya jatuh ke US$ 85/ share. Kesalahan utama Google
bisa dilihat pada penetapan harga seperti pada saat pertama kali Larry dan
Sergey menawarkan ke perusahaan mesin pencari sebesar US$ 1 Juta, sama seperti
IPO yang mencatok harga terlalu tinggi untuk perusahaan yang baru berdiri
selama 5 tahun. Para calon investor seolah-olah menghindar karena saham ini
membawa virus Anthraks. Namun, dampak penurunan harga saham diawal ini membuat
nama Google menjadi banyak dibicarakan sehingga menjadi sebuah media marketing
yang ampuh. Nama Google justru semakin bagus sehingga melambungkan pangsa
pasarnya karena orang menjadi penasaran dengan Google. Ya, inilah yang saya
sebut sebagai satu kegagalan terbesar Google yang menciptakan kesuksesan yang
lebih besar. Apakah ini resep keempat Google bisa sukses? Yakni menciptakan
kontroversi harga saham saat IPO? Hmmmmm….
Semakin
tinggi suatu pohon, semakin banyak pula angin badai yang menerjang. Begitu pula
dengan Google. Jangan sangka bahwa perusahaan ini adem ayem tanpa masalah. Isu yang
paling panas tentang Google adalah adanya diskriminasi antara pegawai bagian teknis
dan non-teknis. Pegawai bagian non-teknis seakan dianaktirikan dengan pegawai bidang
teknis dalam hal fasilitas. Pegawai teknis memiliki fasilitas yang lebih bagus
dari pegawai non-teknis misalnya dari lokasi tempat kerja dan penyediaan makanan.
Atasan Google berpikir bahwa pegawai bagian teknis mempunyai pekerjaan yang
lebih berat dan stressful sehingga mereka butuh suasana kerja yang lebih. Selain
itu, pegawai teknis lebih banyak lembur sehingga penyediaan makanannya bisa
hingga malam. Selain itu, ada isu pemotongan tunjangan pegawai karena fasilitas
mewah di kantor.
Mungkin
saya hanya akan membahas mengenai 5 rahasia sukses Google disini (walaupun
pastinya ada banyak). Sebagai resep terakhir rahasia sukses Google adalah cara
menjalankan bisnisnya yang sosialis filantropis, seperti kedua pendirinya Larry
dan Sergey. Larry dan Sergey menjadikan Google sebagai pusat kegiatan
filantropi pada usia muda, mereka telah berpikir jauh tentang isu moral terkait
teknologi dan bisnis. Google.org merupakan wadah amal Google yang didirikan
pada Oktober 2005, sekitar 6 tahun setelah Google berdiri. Informasi seputar Google.org
bisa dilihat di website http://www.google.com/giving/.
Berbeda dengan Microsoft yang didirikan pada tahun 1975, Bill Gates memulai
kegiatan amalnya pada tahun 1997 ketika mengunjungi India. Sekitar 25 tahun
setelah Microsoft berdiri, Bill and Melinda Gates Foundation dibentuk. Bill Gates
berusaha menjadi pengusaha yang berhasil terlebih dahulu kemudian baru menjdi
seorang filantropis pada usianya yang beranjak tua. Berbeda dengan Larry dan
Sergey yang mendirikan Google.org pada saat perusahaan mereka baru mulai berkembang
pada tahun 2005. Mereka percaya bahwa dengan memberi maka mereka tidak akan
kehilangan tetapi justru akan menerima lebih banyak. Beberapa aksi moral kecil yang
dilakukan Google misalnya menolak menerima iklan rokok dan minuman beralkohol.
Google
bermimpi untuk mengumpulkan karya yang sudah tidak diterbitkan lagi dalam
bentuk digital dengan memindai dan mendigitalisasi setiap buku di dunia
sehingga mendukung penelitian-penelitian di berbagai bidang. Selain itu, Google
berambisi untuk memasuki bidang perangkat lunak komputer perusahaan yang bisa
digunakan secara online. Misi utama Google adalah mengambil alih seluruh industry
komputer. Google tidak mencoba berkompetisi secara langsung dengan Microsoft
maupun Apple sebagai competitor utamanya. Yang paling penting bagi Google dalam
bisnisnya adalah selalu berinovasi dan menciptakan sesuatu yang bernilai sesuai
dengan permintaan pasar.
“INTERNET
ADALAH SEBUAH GEMPA BUMI DAN GOOGLE ADALAH TUKANG REPARASI YANG MENCOBA
MENYATUKAN DUA BAGIAN YANG TERBELAH.”
Category Lectures, Motivation, Thought
BRANDED BRAND'S SECRETS
0Monday, March 31, 2014 by zidniezou
Ditulisnya artikel ini
diawali dari ketertarikan saya tentang Brand Value. Ya, saya mulai
mempelajari Brand Management beberapa waktu ini, hasil dari pengalaman
kerja praktek. Sebenarnya, saya melaksanakan kerja praktek/ magang di Bank
Indonesia di Tim Pengawasan Kualitas dan Kebijakan Pengamanan Sistem Informasi
(PKKPSI), Group Strategi dan Pengembangan Sistem Informasi, Direktorat
Pengembangan Sistem Informasi Bank Indonesia (BI) haha panjang banget ya
namanya walaupun ternyata di tempat KP saya ini saya sama sekali gak belajar
tentang Brand Management. Jadi, awal saya tertarik dengan Brand
Management adalah ketika pergi makan siang dan jalan-jalan di Plaza
Indonesia (PI), shopping center yang berada ga jauh dari Kantor BI di
Jalan MH. Thamrin Jakpus. Kebetulan ada shuttle bus yang disediakan oleh
pihak Mall Plaza Indonesia untuk karyawan BI. Singkat cerita, shuttle bus
berhenti di parkir PI bagian depan (seberang Pullman Hotel) sehingga kita
langsung disambut oleh logo Louis Vuitton (LV) yang sensasional itu, yaitu
perusahaan produk mewah yang menjual barang-barang fashion lifestyle
untuk masyarakat kelas wahid.
Penampakan Concept
Store dari Louis Vuitton di Plaza Indonesia
Akhirnya, saya pun
masuk ke gerai LV tersebut bersama teman. Ini adalah hal yang membuat saya
tercengang ketika melihat price tag sebuah sling bag dari kulit
sapi seharga 18 juta rupiah. Hal yang pertama kali saya pikirkan adalah bahwa
saya bisa membeli satu ekor sapi yang lumayan besar dengan uang 18 juta rupiah
tersebut, bahkan bisa membeli 2 ekor sapi berukuran sedang. Kaki saya terasa
lemas sekali sehingga ingin cepat-cepat keluar dari gerai LV itu karena merasa
gak sanggup dan gak PD juga masuk ke gerai yang kita gak mungkin bisa beli
minimal produk paling murahnya hoho. Awalnya saya tertarik masuk ke gerai LV
asli karena sering melihat semacam tas tersebut di ITC. Sebagai pendatang baru
di Jakarta (walaupun niatnya kuliah) saya selalu diajak belanja sama Ibu saya
ke ITC. Inilah hal yang membuat saya sadar mengapa ada yang namanya
barang ori, premium, mirror/ replika, KW/ palsu, dan lain-lain.
Toko Penjual Barang
Branded Replika di ITC
Dengan fasilitas
internet gratis di tempat KP, kadang-kadang saya nyuri waktu buat tahu lebih
detail tentang merek-merek mewah itu. Mulai dari Louis Vuitton, Gucci, Prada,
Channel, Valentino, Versace, Armani, Ferragamo, Burberry dan juga merek-merek high
street fashion yang lebih terjangkau lagi seperti Zara, Mango, Top Sop,
H&M, NEXT, dan lain-lain. Dari sinilah saya belajar mengenai Luxury
Retail and Apparel Industries ini dan tertarik dengan Brand Management
karena produk-produk tersebut mempunyai Brand Value yang WOW.
Dalam Top 100 Brand Report 2013 dari BrandZ, berikut adalah
peringkat merk berdasarkan Brand Value-nya: Louis Vuitton #29, Zara #35
, Hermes #40, Nike #56, Gucci #68, H&M #69, dan Prada #95 yang masuk
kedalam Top 100 Brand Value dari semua kategori industri di dunia.
Bahkan perusahaan otomotif VW (Volkswagen) hanya menduduki peringkat
#100. Top 3 Brand Value diduduki oleh industri teknologi yaitu Apple #1,
Google #2, dan IBM #3. Setiap lembaga survey seperti BrandZ memang mempunyai
kriteria penilaian yang berbeda-beda dalam pemeringkatan Brand Value ini,
namun hasilnya kira-kira tidak jauh satu sama lain.
Top 10 Luxury*
Brand Value
Top 10 Apparel*
Brand Value
*Kategori Luxury
termasuk brand yang mendesain, membuat, dan memasarkan high-end clothing,
leather goods, aksesoris, dan jam tangan
*Kategori Apparel terdiri
dari brand fashion dan sportswear baik pria maupun wanita yang dipasarkan
secara masal (mass-market) tetapi selain dari kategori barang mewah
Ada beberapa perusahaan
terbesar dalam industri barang mewah ini yaitu LVMH/ Louis Vuitton Moet
Hennessy 1987 (Pemilik: Bernald Arnault), PPR/ Pinault Printemps Redoute atau
Kering Groups 1963 (Pemilik: Henri Pinault), dan Richemont 1988 (Pemilik:
Johann Rupert). LVMH menguasai merek seperti Christian Dior, Fendi, Donna
Karan, TAG HEUER, Louis Vuitton, Michael Kors, Celine, Loewe, dan beberapa
produk champagne dan jam tangan lainnya. PPR atau sekarang berubah nama
menjadi Kering Group memiliki produk andalan Gucci, YSL/ Yves Saint Laurent,
Alexander McQueen, Stella McCartney, Bottega Venetta, dll. Sedangkan Richemont
terkenal dengan produk Montblanc, Ralph Lauren, Cartier, Dunhill, Chloe, dll.
Selain holding company tersebut, ada juga perusahaan tunggal seperti Prada,
Hermes, Burberry, Chanel, dll. Barang yang dijual juga beragam dari tas,
aksesoris, sepatu, pakaian adibusana/ couture, pakaian ready-to-wear,
jam tangan, furniture, parfum, dan masih banyak lagi.
Nah, setelah beberapa
bulan belajar mengenai brand management dan Luxury Retail Industries
ini, saya sedikit bisa menarik kesimpulan mengenai rahasia mereka bisa menjual
produk fashion dengan harga selangit:
- Brand History
Hampir semua brand
high fashion mempunyai sejarah mengenai brand-nya. Hampir semua merek mewah
yang ada di dunia mempunyai perjalanan panjang untuk kesuksesan mereknya
sehingga menjadi terkenal dan eksklusif. Beberapa merek bahkan usianya sudah
lebih dari seabad. Setiap brand berusaha menemukan sejarah merek dan merekrut
desainer yang tepat untuk menemukannya. Dengan memiliki brand history,
semua merek akan diketahui DNA-nya yang menjadi acuan dan konsep dalam
mendesain semua produknya.
Coco Chanel, pendiri
brand Chanel
- Brand Signature
Brand signature atau ciri khas merek menciptakan brand recognition yang bagus. Brand
recognition bisa berasal dari logo, bentuk, maupun desain produk. Misalnya
adalah bentuk tas Birkin dari Hermes dan tas Boston Celine yang khas, gambar
monogram dari Louis Vuitton yang sensasional, serta logo Chanel yang unik.
Brand Signature dari
beberapa merek mewah
- Target Market
Ini adalah alasan utama
mengapa barang-barang branded ini berharga mahal. Ya, target pasar mereka
adalah orang-orang super kaya. Mereka akan berusaha menciptakan produk
eksklusif yang disukai kaum jetset. Bagi kita orang biasa, melihat harga barang
mewah ini seperti tidak lazim, namun perusahaan ini pasti sudah melakukan riset
pasar orang kaya mengenai selera dan shopping behavior. Selain itu dalam
stratifikasi sosial, masyarakat kelas atas yang menempati segitiga puncak
pastinya berjumlah lebih sedikit dibandingkan masyarakat kelas menegah dan
bawah.
- Menciptakan Trend dan Eksklusivitas
Desain unik dari
berbagai branded brand
Banyak merek terkenal
yang menciptakan trend sendiri yang tidak mengikuti trend atau berdasarkan
riset pasar. Tahukah anda dengan desain hulahoop bag dan perfume bag
dari Chanel? Atau tas Gucci Bamboo dari handle yang terbuat dari bambu? Ini
adalah kunci utama dalam menciptakan eksklusivitas yaitu BE DIFFERENT
namun tetap berpegang pada ciri khas mereknya. Beberapa merek dengan harga yang
lebih terjangkau seperti Zara, Mango, atau H&M sebenarnya sangat laku
karena mengeluarkan produk dengan desain tiruan seperti branded brand
dengan harga yang lebih murah dan waktu peluncuran yang lebih awal. Beberapa
brand mewah memang menggelar fashion show tetapi produk tersebut baru
tersedia di toko dalam beberapa bulan kemudian. Ini salah satu alasan utama high
street fashion seperti Zara, Mango, dan H&M yang membuatnya terkenal:
murah, desain/ trend yang hampir sama dengan luxury retail, dan fast
distribution.
Salah satu hal yang membuat Tas Birkin dari Hermes menjadi sangat digilai para wanita adalah eksklusivitasnya. Ya, kita bisa saja perlu menunggu waktu (waiting list) hingga 6 bulan sampai 1 tahun untuk bisa mempunyai Hermes Birkin. Banyak merek lain juga yang menggunakan strategi eksklusivitas produk sebagai cara menarik konsumen supaya tidak perlu berpikir dalam membeli produknya. Eksklusivitas ini selain digunakan sebagai strategi marketing, juga dikarenakan proses produksi yang lama misalnya saja Jam Tangan Grandmaster Chime 5175 dari Patek Philippe yang dijual seharga US$ 2,6 juta atau sekitar Rp 33,8 Milyar (Kurs US$ 1 = Rp 13.000). Ini adalah salah satu jam tangan termahal di dunia yang terbuat dari emas 18 karat dan dihiasi dengan batu safir. Proses pengembangannya pun membutuhkan waktu 7 tahun dan proses produksinya membutuhkan waktu hingga 2 tahun. Jam tangan Patek Phillipe Grandmaster Chime ini juga hanya diproduksi 7 buah saja di dunia, dan hanya 6 buah saja yang dijual karena 1 buah untuk disimpan perusahaan.
Patek Philippe
Grandmaster Chime 5175
- Incredible Marketing
Perusahaan-perusahaan
branded ini tidak berbelit untuk mengeluarkan banyak uang untuk membayar model
atau brand ambassador/ campaign. Misalnya kampanye Dior dengan aktris
Hollywood yaitu Jennifer Lawrence untuk kampanye 3 musim mendatang ini kabarnya
pihak Dior membayar US$ 20 juta atau sekitar Rp 220 miliar. Selain itu,
beberapa merek mewah ini melakukan endorsement dengan sejumlah public
figure yang menjadi trendsetter dalam dunia fashion seperti Madonna,
Beyonce, Sarah Jessica Parker, Rihanna, Katy Perry, dll. Dengan melakukan endorsement
bisa dikatakan pihak perusahaan memberikan hadiah/ produk gratis kepada public
figure ini. Bahkan, beberapa bintang seperti Katy Perry juga dibayar dengan
sejumlah uang untuk memakai Dolce&Gabbana dalam red carpet atau keseharian.
Mengundang selebritis terkenal dan tokoh fashion yang penting (editor majalah,
fashion blogger, pengusaha retail, dll) dalam acara fashion show mereka juga
pastinya tidak gratis. Semakin banyak orang terkenal dan orang penting yang
hadir dalam fashion show, semakin terkenal dan penting juga merek tersebut.
Jennifer Lawrence
(J-Law) untuk Kampanye Dior
Beberapa penampilan
Katy Perry dengan dress Dolce&Gabbana
Selain biaya marketing
diatas, perusahaan juga mengeluarkan banyak uang untuk mendesain concept
store dan juga penyelenggaraan fashion show dari biaya model peraga,
make up and hair stylist, penyewaan gedung, dekorasi sesuai konsep
fashion show, kru, dan lain lain. Penyelenggaraan dan tema fashion show
yang unik akan memberikan value/ image yang bagus untuk brand. Selain
itu, concept store yang didesain menarik tentunya akan menarik
pengunjung untuk masuk ke toko serta menciptakan shopping experience
yang mewah. Perlu disadari juga bahwa merek-merek mewah ini pastinya membuka
tokonya di kawasan perbelanjaan yang elite misalnya sekelas Plaza Indonesia,
Pacific Place, dan Senayan City untuk Indonesia maupun di Orchard Road untuk
Singapura. Harga sewa untuk tempat concept store mereka pastinya mahal.
Fashion Show Louis Vuitton (atas) dan Chanel (bawah)
Concept Store Louis Vuitton bagian depan (atas) dan bagian dalam (bawah)
- Beyond Quality: Desain, Material, Pekerja, dan Proses Produksi
Seperti yang dikatakan
diatas bahwa perusahaan perlu merekrut creative designer untuk bisa
membuat desain yang menarik sesuai dengan sejarah merek. Beberapa tahun lalu
tepatnya pada 2011, Marc Jacobs yang merupakan Creative Director dari
Louis Vuitton meminta gaji US$ 10 juta atau lebih dari Rp 100 miliar setahun
untuk merancang 22 koleksi couture dari Dior yang baru saja ditinggalkan
desainernya, John Galliano. Memang angka ini cukup fantastis mengingat 22
koleksi dalam setahun merupakan angka kecil namun memang butuh kreativitas yang
besar.
Kemudian, proses
produksi dari merek mewah ini menggunakan bahan material kelas 1 yang tentunya
sangat mahal dari bahan material pada umumnya dengan menggunakan logam mulia
murni, Kristal Swarovski, dan batu mulia langka disertai dengan para pekerja/
craftman yang handal sehingga nilai investasi untuk modal tersebut juga tinggi.
Selain itu, untuk menciptakan diferensiasi dengan merek lain, mereka
menggunakan alat khusus yang dijalankan secara manual (handmade) jadi
prosesnya benar-benar terkontrol sehingga kapasitas produksinya sedikit. Video
ini menunjukan proses pembuatan koleksi dari brand Dior yang membuat saya
seperti ingin melakukan standing ovation setelah menontonnya: CHECK IT
OUT!
Video Making of
Christian Dior Haute Couture Spring/ Summer 2011 atau lihat disini
Proses produksi dengan handmade
memungkinkan ketelitian desain setiap produk. Walaupun begitu, pengawasan
kualitas produknya dilakukan dengan ketat karena tidak menutup kemungkinan
adanya human error dalam kecacatan produk karena dibuat secara handmade.
Perlu anda tahu bahwa produk Louis Vuitton yang cacat akan berakhir di mesin
penghancur walaupun hanya memiliki sedikit cacat tanpa adanya pemrosesan ulang
pada bagian yang cacat. Hal ini merupakan bukti keseriusan perusahaan barang
mewah ini tentang kualitas.
Berbicara mengenai
barang mewah, mungkin salah satu ikon artis Indonesia yang langsung terbayang
di benak kita adalah Syahrini. Ya, Syahrini selalu bergaya dari head-to-toe
dengan menggunakan barang branded. Merek favorit Syahrini adalah Hermes,
Chanel, Miu Miu, Kenzo, Bottega Veneta, Christian Louboutin, dan masih banyak
lagi. Syahrini memang menimbulkan sesnsasi yang cukup kontraversial dari banyak
kalangan masyarakat Indonesia dengan gaya hidup mewahnya itu. Menurut saya,
kontraversial ini ditimbulkan karena gaya Syahrini yang kurang umum dengan
kondisi masyarakat di Indonesia yang sebagian besar adalah masyarakat menengah
ke bawah serta berkembangnya media yang membuat seluruh Indonesia mengetahui
tentang gaya hidup Syahrini. Namun dengan kontraversialnya ini dan banyak
haters, saya pribadi sangat takjub dengan kekuatan hati Syahrini yang mendapat
banyak cibiran. Ya, sebetulnya gaya serba mewah Syahrini adalah hak dia sebagai
penyanyi dengan penghasilan yang sangat tinggi. Ingat, setiap produk dari
barang murah hingga barang mahal sudah mempunyai target pembelinya
sendiri-sendiri. Misalnya saja dalam hal kecil seperti membeli daging ayam.
Orang yang kurang mampu mungkin hanya bisa membeli daging ayam negeri, orang
yang cukup mampu pastinya lebih memilih ayam kampung, sedangkan orang yang
lebih mampu inginnya membeli ayam organik atau bahkan ayam kalkun. Gak ada yang
salah, yang salah tuh kalau kita MAKSA, gak mampu beli tapi tetep beli barang
branded yang mahal.
Kalau saya punya banyak
uang mungkin akan menggunakan uang tersebut untuk investasi misalnya membuat
perusahaan sendiri dengan nama merek pribadi untuk mencoba membuat merek dari
Indonesia yang semoga bisa dikenal secara global. Saya agak kurang setuju
ketika ada yang mengatakan bahwa membeli barang branded adalah sebuah
investasi. Ya, mungkin sedikit ada benarnya, namun investasi itu sendiri adalah
ketika mengeluarkan banyak uang maka uang itu akan mengalir seterusnya tanpa
menghilangkan nilai awal dari sejumlah uang yang dikeluarkan, bahkan nilai awal
itu akan terus naik. Kemudian, barang tas branded termasuk barang yang tingkat
likuiditasnya rendah, sangat sulit dijual kembali karena terkadang barang
branded selalu mengikuti perkembangan trend jadi kemungkinan trend
tersebut akan booming lagi adalah tidak pasti. Menurut saya, mungkin
lebih tepat jika dikatakan barang branded sebagai suatu aset, bukan sebuah
investasi.
Sebagai penutup, saya
melihat barang mewah ini adalah sebuah seni karena yang membuat barang ini
mahal adalah kreativitasnya. Selain itu saya juga sangat menyukai business
process mereka. Seorang fashionista itu tidak jauh berbeda dengan
kolektor barang. Seni yang unik dan tidak biasa disertai dengan brand value dan
quality assurance yang bagus akan menciptakan nilai yang luar biasa.
Saya sangat tertarik sekali dengan brand management sehingga dengan
mempelajari industri barang mewah ini memberikan inspirasi dan wawasan, sebuah
kombinasi dari creative designer, incredible marketing, reliable craftsman,
dan beyond quality material and process yang menciptakan luxury
goods.
Category Lectures, Motivation, Thought
Powered by Blogger.














