RSS Feed

Showing posts with label Untuk Seseorang. Show all posts

HAJI YANG MABRUR

0

Friday, May 10, 2019 by


Abdullah bin Al-Mubarak adalah seorang ahli Hadis terkemuka dan seorang pertapa yang masyhur yang sangat cakap dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan termasuk gramatika dan kesustraan. Ia juga seorang saudagar hartawan yang banyak memberi derma kepada orang-orang miskin. Pada saat Abdullah bin Mubarak tinggal di kota Mekah, setelah selesai menyempurnakan ibadah haji, ia tertidur. Di dalam tidurnya itu ia bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit. “Berapa orang yang datang pada tahun ini?” Tanya satu malaikat kepada yang lain. “Enam ratus ribu orang.” Jawab yang lain. Lalu malaikat yang pertama bertanya, “Berapa banyak yang ibadah hajinya diterima?” Kemudian dijawad, “Tak satu pun.”

Setelah mendengarnya, tubuh Abdullah bin Mubarak gemetar, kemudian dia berseru, “Apa? Mereka datang dari pelosok yang jauh dan dari lembah yang dalam, dengan susah payah melintasi padang pasir nan luas, tetapi semua itu sia-sia?” Kemudian salah satu malaikat itu menjawab, “Ada seorang tukang sepatu di Damaskus yang bernama Ali bin Muwaffaq. Ia tidak datang kemari tetapi ibadah hajinya diterima dan segala dosanya diampuni Allah SWT.”

Abdullah bin Mubarak lalu terbangun dan berkata, “Aku harus pergi ke Damaskus untuk menemui orang itu.” Sesampainya disana, Abdullah bin Mubarak segera menyerukan nama Ali bin Muwaffaq dan seseorang menyahut, “Aku Ali bin Muwaffaq.” Abdullah bin Mubarak kemudian bertanya, “Apa pekerjaaanmu?” dan Ali bin Muwaffaq menjawab, “Membetulkan sepatu.” Kemudian Abdullah bin Mubarak menceritakan perihal mimpi kepadanya. “Siapa Anda?” Ali bin Muwaffaq bertanya. “Abdullah bin Mubarak” jawabnya. Ali berseru dan tiba-tiba tak sadarkan diri. Ketika ia siuman, Abdullah bin Mubarak mendesaknya menceritakan perihal dirinya.

Berikut ini kisahnya, “Tiga puluh tahun lamanya aku bercita-cita menunaikan ibadah haji. Dari pekerjaan membetulkan sepatu, aku berhasil menyisihkan sebanyak tiga ratus lima puluh dirham. Aku bertekad pergi ke Mekah tahun ini juga. Ketika itu istriku sedang mengandung dan mencium bau makanan dari rumah sebelah. ‘Mintakanlah sedikit makanan itu untukku!’ Istriku memohon. Aku pun pergi lalu mengetuk pintu rumah tetangga dan menerangkan hal yang sebenarnya. Tetapi si tetangga itu tiba-tiba menangis dan berkata, ‘Tiga hari lamanya anak-anakku tidak makan. Tadi siang aku melihat seekor keledai yang tergeletak mati, aku pun menyayat sekerat daging lalu memasaknya. Makanan ini tidak halal untukmu.’ Aku snagat sedih mendengarnya. Maka aku pun mengambil tabunganku yang berjumlah tiga ratus lima puluh dirham dan menyerahkan semuanya kepadanya. ‘Gunakanlah uang ini untuk anak-anakmu,’ Ujarku, ‘inilah ibadah hajiku.

“Malaikat-malaikat di dalam mimpiku itu telah berbicara yang sebenarnya,” kata Abdullah bin Mubarak, “Sang Penguasa Kerajaan Surga benar-benar adil di dalam penghakimannya.”

“Hal yang diberikan kepada jiwa seorang muslim lebih disukai Allah daripada seribu kali menunaikan ibadah haji.” Begitu kata Bisy bin Harits yang merupakan tokoh sufi dari Baghdad yang terkenal dengan sebutan Si Fakir Tanpa Alas Kaki yang terkenal dengan nasihat tersebut.

Kisah ini dikutip dari buku Tadzkiratul Auliya 


MY BIG INSPIRATION

0

Wednesday, October 1, 2014 by

Waktu itu saya jadi pernah ikut-ikutan rempong dengan kehamilan Kakak saya karena sebagai calon Paman saya jadi sangat peduli dengan calon keponakan saya nanti. Terinspirasi dari cara-cara yang dilakukan bangsa Israel yang sangat mempersiapkan kelahiran bayi dengan sangat hebat, saya ingin ikut mencoba resep sukses mereka dalam mencetak generasi penerus yang hebat. Bangsa Israel memang terkenal dengan kecerdasannya karena mereka sangat mempersiapkan generasi penerusnya dengan baik bahkan sejak masa kandungan. Para wanita hamil disana (katanya) banyak melakukan kegiatan yang turut serta mendukung pertumbuhan janinnya. Mulai dari membaca buku ilmu pengetahuan, biografi sosok ilmuwan hebat yang mempengaruhi dunia, sampai mendengarkan musik kepada bayinya. Ya memang, kata orang Jawa kuno juga bilang apa yang wanita hamil lakukan saat masa kehamilan akan ada semacam hasil yang selaras dengan aktivitasnya saat hamil. Makanya biasanya ada benernya juga, sebagai contoh yang banyak saya lihat adalah anaknya guru sekolah yang kebanyakan ketika sudah besar jadi cerdas karena mungkin pas lagi hamil, Ibunya sebagai guru banyak mengajarkan ilmu ke muridnya jadi menurun ke anaknya.

Akhirnya saya pun pergi ke toko buku untuk sekedar membeli buku bacaan untuk Kakak saya. Yang terpikirkan oleh saya adalah membelikan buku pengetahuan umum semacam pengetahuan astronomi, buku biografi ilmuwan dunia, biografi orang sukses, dsb. Namun sayangnya saya gak menemukan sama sekali buku tersebut dari toko buku kecil sampe yang besar di mall-mall terkenal. Maklum mungkin dulu biografi semacam ini belum terlalu banyak, kalau sekarang saya lihat sih sudah mulai tersedia banyak. Akhirnya sampai juga saya di lorong buku tentang Agama Islam dan dari situ saya melihat buku Biografi Lengkap Nabi Muhammad SAW. Saya tertegun melihat buku itu, ketika mulai memegang dan membukanya, saya semakin deg-degan dan gemetar. Astaghfirullah, kenapa saya gak kepikiran membeli buku ini? Kenapa saya justru mencari buku biografi pengusaha sukses, ilmuwan hebat, dan pengetahuan dunia dibandingkan mencari buku biografi Manusia Panutan seperti beliau? Saya sadari memang, kita mungkin lebih memilih menjadi orang yang cerdas, kaya raya, sukses, dan berpendidikan tinggi dibandingkan orang yang tahu tentang agama sendiri. Apalagi, waktu itu saya sedang mengalami masa labil sebagai remaja yang sedang mencari jati dirinya jadi kurang menyadari hal ini. Melihat buku ini dan menyadari hal tersebut sebenarnya membuat saya ingin menangis namun karena keadaan toko buku yang ramai, saya langsung bergegas ke kasir untuk membelinya.

Yap, memang biasanya ketika kita ditanya tentang siapa idola yang menginspirasi hidupmu, kita pasti akan menjawab nama bintang film, penyanyi kondang, ataupun public figure lainnya. Itupun dengan alasan sebagian besar karena penampilannya. Jarang sekali ada yang menyebutkan seorang ilmuwan, negarawan, atau mungkin orang tua mereka bahkan sosok yang berpengaruh terhadap agama mereka. Dulu memang saya selalu menuliskan sosok idola saya adalah Nabi Muhammad SAW, namun dari kejadian diatas hanya memperlihatkan kalau saya kurang begitu menghayati apa yang saya tulis, bahkan kurang meneladani tindakannya. Bagaimana saya bisa mengidolakan Beliau tanpa tahu riwayat hidupnya secara lengkap. Mungkin karena pengetahuan saya mengenai sosok Beliau masih sedikit maka dari itu saya mulai membaca biografi Beliau secara utuh dalam buku yang tebalnya melebihi Alquran. Saya membaca buku ini dalam waktu lebih dari seminggu karena saking tebalnya dan juga karena saya punya kesibukan lain.


Saya mengalami masa-masa labil ketika menduduki bangku kuliah. Masalah hidup yang besar kurang sepadan dengan pengalaman hidup saya sebelumnya yang masih sedikit dan usia saya yang masih muda dan sedang mulai labil. Terlebih lagi saya sedang jauh dari orangtua. Perlu Anda tahu lagi, bahwa saya banyak mengalami banyak kegagalan dan masalah mulai dari gagal dalam kompetisi, program exchange, beasiswa hingga beberapa masalah kecil dengan teman/ dosen. I'm experienced in Failure huhu. Ya memang kejadian ini bikin saya minder dan terpuruk. Namun untungnya saya mendapatkan buku biografi Nabi Muhammad SAW yang menjadi salah satu inspirasi besar saya dalam menjalani hidup untuk mengatasi banyak masalah tadi.

Sebelum masa kenabian sampai masa akhir kenabian ketika Nabi Muhammad SAW wafat, Beliau banyak sekali dilanda cobaan hidup dari ditinggal pergi ayahnya ketika masih dalam kandungan, ditinggal pergi ibunda dan kakeknya ketika remaja, hingga banyak cobaan hidup lain yang penuh perjuangan ketika masa-masa awal kenabian. Nothing worths having comes easy juga untuk Manusia semulia Nabi Muhammad SAW. Namun beliau tidak pernah menyerah dan putus asa serta selalu mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai tempat meminta pertolongan. Nabi Muhammad sampai disebut sebagai orang gila dan penyair gadungan karena menyebut dirinya sendiri sebagai utusan Tuhan dan menerima wahyu.

Yang paling saya kagumi dari kisah beliau adalah perjuangan hidupnya. Bisa dibilang sama seperti kehidupan saya yang banyak mengalami kegagalan dan sering mengalami ujian hidup. Namun saya tahu bahwa Tuhan akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman. Ketika orang ingin diangkat derajatnya, pastilah mereka harus menjalani ujian hidup. Apakah mereka akan senantiasa beriman ketika menghadapi ujian? Apakah mereka bisa menjalani ujian dan mengatasinya dengan baik? Apakah mereka berjuang untuk mengatasinya? Ya, jika mereka lulus pastinya Tuhan akan mengangkat derajat mereka di tempat yang lebih tinggi dan mulia. Sebagai contoh ketika kita bersekolah, pastinya jika kita ingin naik kelas, kita harus menjalani ujian akhir semester dengan mengerjakan soal ujian. Kita harus membekali diri dalam ujian tersebut dengan banyak belajar dan berdoa. Jika kita lulus ujian, maka kita akan naik kelas. Seperti itulah analogi naik kelas dengan Tuhan yang mengangkat derajat makhluknya. Jadi ketika kita ditimpa ujian seberat apapun, kita harus berpikir bahwa Tuhan ingin mengangkat derajat kita dengan memberikan ujian ini. Kita harus berjuang dan berdoa agar segera lulus dari ujian ini dengan kerja keras, bukan dengan keluhan ataupun tangisan putus asa. Kita harus senang dengan ujian ini karena kita akan segera "naik kelas" jika lulus menjalaninya. Ketika Anda mengeluh dan putus asa dalam menghadapi ujian ini, maka sepertinya anda ingin "tinggal kelas" saja, malu bukan? Kemudian kita juga harus belajar bahwa, tidak perlu iri hati dengan orang yang dengan mudah mendapatkan apa yang dia inginkan tanpa ujian. Itu berarti bahwa derajatnya tidak diangkat oleh Tuhan. Jadi kenapa harus iri? Makanya kita harus melihat ke diri kita, mensyukuri apa yang kita punya, bukannya iri kepada kesuksesan orang lain. Lah wong Nabi aja orang yang mulia di sisi Tuhan harus mengalami ujian yang berat dalam melaksanakan dakwahnya, kenapa kita yang manusia biasa gak bisa terhindar dari ujian hidup?

Maka dari itu, ketika saya menghadapi ujian, saya pasti langsung mengingat sosok inspiratif ini yakni Nabi Muhammad SAW. Saya yakin bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan. Dan sepatutnya saya harus senang karena berarti derajat saya akan dinaikkan tapi harus diuji dulu. Kita harus mensyukuri apa yang kita punya sekarang. Terkadang manusia kurang bersyukur dengan apa yang mereka punya makanya Tuhan memberikan ujian dengan mengambil nikmat yang menyebabkan mereka mendapatkan masalah. Makanya jika kita bijak menghadapi ujian hidup, kita pasti akan lebih bijak lagi dalam menghadapi hidup yang tersisa.


Selamat Tinggal, Oma...

0

Tuesday, February 26, 2013 by


Pagi ini, udara terasa sangat dingin karena tadi malam hujan deras melanda kota nan sejuk ini. Seorang nenek tua sedang asik duduk melamun di teras rumahnya sambil memandangi jalan raya yang tepat berada di depan rumahnya. Terkadang kendaraan yang melintas menyadarkan lamunannya itu. Sang nenek sedang gundah karena sang suami sedang jatuh sakit yang sudah dialami 3 hari. Sang kakek mulai sakit setelah jimat yang ada di tubuhnya diambil. Maklum saja, orang jaman dulu terutama pejuang seperti kakek biasa memakai ini supaya diberi keselamatan dalam perang melawan penjajah, antara mitos atau bukan tetapi jimat itu membuat kakek tetap bertahan hidup sampai usianya sekarang 99 tahun hampir seabad. Jimat yang baru saja diambil dari tubuh sang kakek sudah dibuang ke sungai, padahal kalau dijual harganya mencapai ratusan juta karena jimat itu berupa berlian yang sangat berkilau, apalagi dapat memberikan umur panjang kalau ditanam di tubuh. Memang bagi orang yang mengutamakan keuntungan pasti menginginkan jimat ini dijual. Namun demi kebaikan keluarga maka jimat ini dibuang saja sesuai perintah nenek. Putra-putri nenek pun memahaminya walaupun apabila dijual mungkin uang warisan mereka bisa lebih banyak.

Sesekali, nenek terbayang dengan anak sulungnya, Adi,  yang sudah lama tidak berjumpa, apalagi dengan anak-anak si sulung. Putra sulung nenek ini sudah 7 tahun tidak bertemu karena ada semacam konflik dengan istrinya yang merupakan orang Medan berpaham Matrilinial yaitu garis keturunan berdasar ibu. Terpikir juga sang nenek dengan putra keduanya, Didi,  yang sakit-sakitan karena kebiasaan buruknya sendiri. Terlintas juga konflik antara anaknya Anah dan Mudi yang tak terselesaikan juga mengenai harta waris.

Tiba-tiba Tya, cucu perempuannya, menemui nenek utuk meminta menjepitkan pita ke rambutnya, seperti biasanya sebelum Tya berangkat sekolah selalu begitu. Tya merupakan anak Isti, putri terakhir nenek yang sudah 6 tahun mejadi TKW di Hongkong. Isti menitipkan Tya kepada ibunya sejak Tya berusia dua tahun. Tya sendiri kadang tak tahu ibunya, hanya saja nenek selalu memberitahu keberadaan ibunya itu.

Setelah Tya meninggalkan nenek untuk bersiap-siap berangkat sekolah. Setelah beberapa saat, nenek melamun kembali dan teringat dengan putranya Ahmad yang sekarang tinggal di Tegal. Kalau bisa dibilang, Ahmad merupakan anak nenek yang paling berbakti namun keberadaannya yang jauh dengan nenek membuatnya tidak bisa selalu bersama nenek. Setiap hampir sebulan sekali anak nenek selalu berkumpul terutama membahas masalah harta waris mereka. Tapi seperti biasa, putra sulung Nenek tidak datang begitu juga dengan Isti yang berada di Hongkong.

Seminggu pun berlalu sejak jimat kakek dikeluarkan. Pagi ini rumah  nenek terasa ramai karena keadaan kakek yang sekarat karena sudah dimakan usia. Para kerabat dekat datang mengunjungi rumah karena menurut kabar dari Nanang, cucu tertua nenek, keadaan kakek sudah kritis. Nenek pun tak kuasa terharu melihat kakek yang terbaring lemah. Sampai akhirnya Innalillahi wainna ilaihi rojiuun, kakek menghembuskan nafas terakhirnya. Antara lega karena kakek bisa lepas dari penderitannya ataukah harus bersedih karena telah  ditinggal pergi telah bercampur jadi satu. Namun keputusan untuk mengambil jimat di tubuh kakek merupakan pertanda kalau kematian untuk kakek adalah hal terbaik.

Adi pun yang sudah 6 tahun tidak bertemu akhirnya pulang ke rumah, namun istri beserta anaknya tidak datang. Tidak semua anak nenek datang karena Isti masih berada di Hongkong. Walaupun nenek merasa sedih karena kekek telah tiada dan Isti tidak ikut berkumpul, nenek tetap bahagia tak terkira bertemu dengan anak sulungnya. Kedatangan Adi memang menutup kerinduan nenek, tetapi ternyata Adi hanya bisa berada disana selama sehari karena pekerjaan yang harus dia lakukan di Jakarta. Keadaan anak-anak nenek setelah kematian kakek semakin parah, mulai dari perseteruan tentang harta warisan hingga keadaan Didi yang semakin parah dengan penyakit diabetesnya. Semua keadaan ini membuat nenek yang sudah tua semakin tidak berdaya. Seakan-akan nenek yang merindukan masa tua yang tentram melihat kesuksesan anak-anaknya justru harus pahit karena keadaan sesungguhnya yang berkebalikan.

Setelah tahun lalu ditinggal pergi oleh Kakek, salah seorang yang dicintainya, kemudian nenek harus kehilangan salah satu putranya, Didi. Kondisi Didi yang semakin memburuk karena penyakitnya ini membuat Didi tak kuasa lagi melawan penyakitnya itu. Untuk mengobati rasa sedih nenek, Ahmad mengajaknya tinggal di rumah Ahmad selama beberapa minggu dengan maksud agar Ahmad bisa membujuk nenek agar mau menikmati hari tuanya dengan dia. 

Ahmad merupakan seorang karyawan kantor yang bekerja dari pagi hingga sore, sedangkan istrinya bekerja sebagai bendahara salah satu lembaga di desanya. Kesibukan keduanya membuat nenek merasa kesepian. Adapun putri sulung Ahmad masih kuliah di Semarang dan putra bungsunya masih SMA. Karena rumah Ahmad yang jauh dari rumah nenek membuat nenek kurang betah tinggal disini. Apalagi, Tya juga ditinggal di rumah nenek dengah Anah. Karena dari kecil sudah selalu bersama Tya, nenek seperti tak bisa jauh dari Tya. Padahal Ahmad ingin sekali mengasuh nenek semasa hari tuanya.

Seperti biasa setiap bulan anak-anak nenek selalu berkumpul membahas mengenai warisan mereka. Pertama-tama mereka menjual rumah nenek dan kakek yang mayoritas dibangun dengan kayu jati kuno ke kolektor. Setelah itu baru mereka menjual tanah kosong yang bangunannya sudah dijual terlebih dahulu. Nenek memilih tinggall bersama Mudi karena Mudi kekeuh tinggal di tanah warisan bagiannya tanpa menjual serta seluruh tanah milik nenek dan kakek karena ingin mempertahankan peninggalan orangtuanya.

Waktu demi waktu, usia nenek yang semakin renta dan perseteruan antara Mudi dan Anah membuatnya semakin lemah. Pagi itu nenek tiba-tiba pingsan tanpa sebab. Setelah dibawa ke rumah sakit, dokter memvonisnya terkena paru-paru basah. ICU pun menjadi satu-satunya pilihan untuk nenek. Setelah dirawat beberapa hari, kondisi nenek semakin memburuk ditandai dengan tubuh nenek yang mulai memar terutama bagian wajah. Dokter tidak bisa berusaha banyak. Sampai akhirnya nenek menghembuskan nafas terakhirnya di ruang ICU itu.....


Nenek Penjual Teh

0

by

Kudengar adzan subuh mulai berkumandang, Alhamdulillah sekali aku masih punya alarm otomatis yang selalu membangunkan tidurku di pagi hari, ya itulah telingaku. Aku memang sudah lanjut usia namun semua organku masih berfungsi dengan baik. Aku harus cepat bersiap-siap untuk menjual minuman di depan gerbang Kukusan. Ya, itung-itung menikmati hari tua, aku gak mau berdiam diri saja di rumah selagi aku bisa melakukan sesuatu hal yang produktif walaupun aku hanya menjual minuman dari jam 6 pagi hingga jam 10 pagi saat orang-orang pergi makan pagi.

Tenda biru, itulah nama tempat aku menjual minuman yang cukup familiar di daerah ini, seperti judul lagu dari Desi Ratnasari. Tak salah jika di belakang tempat ini ada foto artis cantik ini sambil berpose menggunakan mic. Daerah Kukusan ini biasa disebut Kutek, memang terdengar lucu seperti nama perlengkapan dandan wanita untuk menghiasi kuku, namun Kutek disini sebenarnya adalah singkatan dari Kukusan Teknik karena letaknya tepat berhadapan dengan Fakultas Teknik. Setiap hari aku selalu meluangkan waktu dari jam 6 sampai jam 10 pagi, kecuali pada tanggal merah dan bulan puasa tentunya aku tidak bisa menjalani aktivitas ini.

Aku hanya menjual dua macam minuman: air putih dan air teh. Namun, dari jualan ini aku mempelajari bisnis yaitu tentang kebutuhan konsumen. Dari dua macam minuman itu saja, aku selalu membuat jenis minuman yang berbeda untuk pemesan. Ada yang suka air putih adem, air putih ditambah es batu, air putih anget-anget kuku, air putih panas, teh manis adem, teh manis dingin, teh manis anget, teh manis panas, teh tawar anget, panas, dingin, adem, dsb. Ada juga pelanggan yang suka membawa gula sendiri yang katanya lebih rendah kalori. Tapi aku gak terlalu memikirkan itu, selagi pola hidupku sewaktu muda yang tidak terlalu rumit dengan diet ini itu, aku masih bersyukur sampai saat ini masih bisa bernapas dan menikmati hidup untuk melihat keturunanku tumbuh dan berkembang.

Pelangganku memang kebanyakan adalah mahasiswa Teknik. Daerah kontrakan dan kos-kosan di Kutek ini memang mayoritas ditempati oleh mahasiswa Teknik karena letaknya yang cukup dekat dari Fakultas Teknik. Walaupun usiaku yang sudah cukup tua, kemampuanku berinteraksi dengan anak muda masih bisa diandalkan. Aku sering bergurau dengan mereka tentang sesuatu yang sedang “HOT” bagi anak seumuran mereka seperti Kamseupay, Fesbuk, bahkan twitter. Ada beberapa pelanggan mahasiswa yang aku anggap sebagai anakku sendiri. Dia selalu makan pagi disini dengan memesan teh tawar anget padaku. Aku selalu otomatis memberinya teh tawar anget ini. Beberapa pelanggan yang dekat denganku sering aku ajak main ke rumah. Aku mempunyai banyak makanan di rumah terutama makanan tradisional seperti keripik karena aku senang membuat jajanan ini.

Berbeda dengan tiap weekend, mayoritas pelanggan adalah orang yang sering jalan-jalan ke kampus, sekedar melepas rasa kangen mereka sebagai alumni atau ingin berolahraga menikmati segarnya udara di dekat kota Jakarta yang terkenal dengan polusi. Walau bagaimana pun aku kesepian di kala siang hingga sore karena anakku yang paling kecil dan belum menikah harus pergi bekerja sebagai kurir. Namun menjadi seorang Nenek Penjual Teh membuat pagiku seperti berguna bagi orang lain.


Akhir Hidupku

0

Monday, July 30, 2012 by


Akhirnya setelah perjuangan 20 menit yang melelahkan, lahirlah putri keduaku dengan selamat walaupun ada sedikit kecelakaan kecil yang terjadi. Aku ga enak hati sendiri dengan Mbak Setyo, kakak perempuanku, karena aku mematahkan dipan kasurnya selama proses melahirkan putri keduaku ini dengan tinggi 51cm dan berat 3,4kg.

Sebenarnya ini adalah putriku yang kelima, ada satu kakaknya perempuan kelas 3 SMP sedangkan ketiga anakku yang lain sudah menjadi anak surga atau Wildan, sebutan bagi anak yang lahir keguguran. Ya, aku sangat memperjuangkan kehamilanku yang kelima ini karena aku sangat sekali memberikan Nuril seorang adik. Sudah tiga kali aku mengalami keguguran karena penyakit Bronkhitis yang aku idap dari sejak  menikah dengan suamiku. Penyakit ini membuatku batuk setiap malam sehingga membuat perutku kejang dan akhirnya mempengaruhi janin di dalamnya.

Memang seorang wanita adalah sosok yang paling kuat dibandingkan dengan pria. Dari pengalaman melahirkanku yang kelima ini saja aku bisa tahu bahwa bayi perempuanku ini bisa lahir selamat sedangkan ketiga anakku yang belum sempat dilahirkan diketahui semuanya adalah laki-laki. Jadi terbukti bahwa wanita adalah sosok yang kuat, tak pelak kami menjadi tempat bagi bayi manis untuk menemui dunia nyata karena mengandung dan melahirkan dan segala tugas wanita itu hanya bisa dilakukan oleh seorang sosok yang kuat, yaitu wanita.

Selama hamil ini, aku harus selalu meminum obat penguat janin untuk membuat bayiku bisa bertahan di kandunganku. Aku juga harus banyak ekstra istirahat sehingga pekerjaan rumah tanggaku dilakukan oleh suami dan putri sulungku. Badanku kurus sekali selama hamil ini, aku pun selalu berdoa dan meminta doa kepada orang agar kehamilanku ini bisa sehat.

Menjalani Ibu baru bagi anak baruku ini adalah sebuah kebahagiaan sendiri. Aku memang suka sekali dengan anak-anak bahkan semua keponakan kecilku sangat nurut denganku, walau yang paling rewel sekalipun. Ibu mertuaku yang selalu menangani cucunya yang baru lahir pun bisa sedikit santai karena aku bisa mengurus anakku sendiri dari memandikan, mengenakan baju, menggantikan popok, dll.

Zahra, panggilan untuk anak mungilku ini sudah tumbuh gigi pada usia 6 bulan. Sebuah kebanggaan tersendiri namu juga sekarang dia sudah semakin besar dan mulai merepotkan seperti  kebanyakan anak seusianya. Harus banyak pengawasan, apalagi  Zahra sering jatuh dari tempat tidur walau aku cuma pergi meninggalkan dia untuk ke toilet. Tubuhku juga mulai menjadi gemuk, terutama bagian pipi yang terlihat tembem padahal saat hamil hingga melahirkan tidak begini keadaannya.

Aku pun berkonsultasi dengan bidan, alangkah terkejutnya ketika aku divonis mengidap penyakit jantung. Ya, bagaimana tidak hancur hatiku dengan penyakit baruku ini setelah dulu aku terkena Bronkhitis yang tak kunjung sembuh hingga sekarang. Bayangkan dua organ vitalku bermasalah padahal aku baru saja berbahagia dengan kelahiran putri keduaku.

Mengetahui berita ini membuatku semakin bermasalah saja, ketika salah makan dan kecapekan pasti kumat. Padahal, Zahra sudah mulai bisa berjalan dan selalu minta turun ke tanah. Aku harus mengawasinya tiap waktu.mungkin obat penguat yang diberikan padaku ketika hamil membuat Zahra jadi sangat rewel dan terlalu lincah. Dengan kondisiku yang sakit ini, hal ini sangat memperparah keadaanku, walaupun sebenarnya aku sangat bahagia melihat perkembangan putriku. Ya, seorang Ibu akan selalu menyayangi putrinya apapun yang terjadi. Nuril juga sangat membantuku menjaga Zahra karena memang dia juga suka dengan anak kecil, apalagi adik kandungnya.

Tapi aku juga sangat sedih karena membuat report keluarga dekatku. Suamiku hanya bekerja sebagai seorang supir dengan penghasilan pas-pasan. Pengobatanku ini ditanggung oleh ibu mertua dan iparku yang sangat baik sekali kepada keluargaku dari dulu sejak saya menikah termasuk membantu biaya sekolah Nuril. Padahal, aku terkadang jarang membantu mereka karena kondisiku dari dulu yang sudah terkena Bronkhitis ditambah lagi sekarang penyakit jantung.

Ini mungkin terakhir kali aku berobat ke dokter di Rumah Sakit Umum pada pertengahan Januari. Kondisiku makin parah. Dokter sudah menyuruhku untuk opname, namun suamiku menolaknya karena tak ada biaya. Walaupun keluarga dekatku mau menanggungnya namun aku tidak enak hati sekali dengan mereka yang sudah sangat baik hari sekali padaku. Ya, mereka memang orang yang berkecukupan. Sebelumnya dokter menyuruh saya melakukan tiga uji laboratoium: cek darah, urine, dan jantung. Melihat hasil laboratorium yang cukup 78@#%$%#% dokter sangat menyarankan aku untuk opname, namun apadaya dengan kondisiku yang tak mungkin diopname. Akhirnya dokter memberiku obat generic. Ya, mungkin melihatku tidak mau opname karena masalah biaya, dokter hanya member obat generic yang cukup terjangkau.

Dengan keadaan Zahra yang masih bayi dan sedang rewel-rewelnya, peristiwa di rumah sakit tadi sangat membuatku sedih sekali. Apalagi suamiku sempat mengajakku pulang karena melihat bon kwitansi cek Labortorium pertama (Cek Darah+Urine) sebesar kurang lebih 500ribu. Walaupun ada iparku yang mau membiayai demi kesembuhanku, namun tetap saja saya tidak enak hati. Apalagi, Zahra selalu menangis kalau aku ajak ke ruang periksa dokter karena melihatku berbaring di ruang periksa. Dia harus sedikit menahan lapar karena aku harus menjalani beberapa uji laboratorium.

Awal Juni ini, keponakanku di Jakarta akan melangsungkan wisudanya. Semua keluarga di kampung berencana menghadiri acara itu di Jakarta. Aku tidak bisa ikut kesana karena kondisiku yang semakin memprihatinkan. Aku tinggal di rumah orang tuaku di kampung sebelah karena suamiku harus menyetir mobil keluarga ke Jakarta, sedangkan Nuril harus mempersiapkan ujian sehingga akan sangat merepotkan bagi dia jika aku berada dirumah sendiri.

Gubraaakkk… mungkin itulah bunyi yang terdengar ketika aku ambruk dari kamar mandi di belakang rumah masa kecilku. Kesadaranku hilang walaupun aku masih bisa melihat dan berbicara namun aku tidak bisa mengingat apa yang aku katakan. Pada saat itu aku baru saja mandi sore. Sejak peristiwa itu aku hanya bisa berbaring di kamar, ditemani keponakanku dan putri kecilku. Tak kuasa sekali rasanya tubuh ini untuk bangun, rasanya energiku hanya tersisa untuk bernafas saja. Sampai pagi hari, keadaanku tetap saja begini. Nuril yang baru saja selesai melaksanakan ujian semester langsung dipanggil kesini, suami dan mertuaku yang sedang ada di Jakarta juga diberitahu keluargaku dan mereka langsung pulang kesini, ada kakak iparku yang tidak ikut karena kasihan dengan keponakanku yang besok akan diwisuda. Ya, aku memakluminya karena acara wisuda ini merupakan acara sekali dalam seumur hidup, justru aku menjadi tidak enak hati karena mengacaukan rencana ini.

Hari sudah mulai siang, aku sudah tidak bisa mendengar apa-apa lagi tapi kulihat Nuril ada disebelahku memegang tanganku sambil membaca Al-Quran. Mungkin dia sedang membacakan surat yasin untukku. Kulihat tanganku sudah membiru, ya inikah mungkin yang dinamakan sakaratul maut? Aku hanya bisa pasrah. Dua organ vitalku, jantung dan paru-paru, yang sudah sangat parah kondisinya membuat tubuhku membiru. Nafasku sudah mulai susah, mungkin energy yang hanya tersisa untuk bernafas akan habis. Paru-paruku sudah tak bisa memompa oksigen lagi dan jantungku tak bisa mengalirkan oksigen lagi memompa darah. Kulihat flashback kehidupanku dari lahir, masa kecil, sekolah, menikah, membina rumah tangga, hingga kehamilanku. Memang inilah yang dinamakan sakaratul maut?

Akhirnya pukul 14.15 aku merasakan rasa sakit yang luar biasa, melebihi dari rasa sakit sebelumnya namun tiba-tiba aku merasakan kedamaian luar biasa setelahnya seperti aku telah sembuh dari rasa sakitku. Kulihat tubuhku tergeletak di atas kasur, inikah yang dinamakan kematian? Innaillahi wainna ilaihi rojiun… memang aku berfirasat akan berakhir seperti ini, namun tak kusangka akan datang waktunya secepat ini.


Powered by Blogger.