Showing posts with label Untuk Seseorang. Show all posts
HAJI YANG MABRUR
0Friday, May 10, 2019 by zidniezou
Abdullah bin Al-Mubarak
adalah seorang ahli Hadis terkemuka dan seorang pertapa yang masyhur yang
sangat cakap dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan termasuk gramatika dan
kesustraan. Ia juga seorang saudagar hartawan yang banyak memberi derma kepada
orang-orang miskin. Pada saat Abdullah bin Mubarak tinggal di kota Mekah,
setelah selesai menyempurnakan ibadah haji, ia tertidur. Di dalam tidurnya itu
ia bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit. “Berapa orang yang datang
pada tahun ini?” Tanya satu malaikat kepada yang lain. “Enam ratus ribu orang.”
Jawab yang lain. Lalu malaikat yang pertama bertanya, “Berapa banyak yang
ibadah hajinya diterima?” Kemudian dijawad, “Tak satu pun.”
Setelah mendengarnya,
tubuh Abdullah bin Mubarak gemetar, kemudian dia berseru, “Apa? Mereka datang
dari pelosok yang jauh dan dari lembah yang dalam, dengan susah payah melintasi
padang pasir nan luas, tetapi semua itu sia-sia?” Kemudian salah satu malaikat
itu menjawab, “Ada seorang tukang sepatu di Damaskus yang bernama Ali bin
Muwaffaq. Ia tidak datang kemari tetapi ibadah hajinya diterima dan segala
dosanya diampuni Allah SWT.”
Abdullah bin Mubarak
lalu terbangun dan berkata, “Aku harus pergi ke Damaskus untuk menemui orang
itu.” Sesampainya disana, Abdullah bin Mubarak segera menyerukan nama Ali bin
Muwaffaq dan seseorang menyahut, “Aku Ali bin Muwaffaq.” Abdullah bin Mubarak
kemudian bertanya, “Apa pekerjaaanmu?” dan Ali bin Muwaffaq menjawab,
“Membetulkan sepatu.” Kemudian Abdullah bin Mubarak menceritakan perihal mimpi
kepadanya. “Siapa Anda?” Ali bin Muwaffaq bertanya. “Abdullah bin Mubarak”
jawabnya. Ali berseru dan tiba-tiba tak sadarkan diri. Ketika ia siuman,
Abdullah bin Mubarak mendesaknya menceritakan perihal dirinya.
Berikut ini kisahnya,
“Tiga puluh tahun lamanya aku bercita-cita menunaikan ibadah haji. Dari
pekerjaan membetulkan sepatu, aku berhasil menyisihkan sebanyak tiga ratus lima
puluh dirham. Aku bertekad pergi ke Mekah tahun ini juga. Ketika itu istriku
sedang mengandung dan mencium bau makanan dari rumah sebelah. ‘Mintakanlah
sedikit makanan itu untukku!’ Istriku memohon. Aku pun pergi lalu mengetuk
pintu rumah tetangga dan menerangkan hal yang sebenarnya. Tetapi si tetangga
itu tiba-tiba menangis dan berkata, ‘Tiga hari lamanya anak-anakku tidak makan.
Tadi siang aku melihat seekor keledai yang tergeletak mati, aku pun menyayat
sekerat daging lalu memasaknya. Makanan ini tidak halal untukmu.’ Aku snagat
sedih mendengarnya. Maka aku pun mengambil tabunganku yang berjumlah tiga ratus
lima puluh dirham dan menyerahkan semuanya kepadanya. ‘Gunakanlah uang ini
untuk anak-anakmu,’ Ujarku, ‘inilah ibadah hajiku.
“Malaikat-malaikat di
dalam mimpiku itu telah berbicara yang sebenarnya,” kata Abdullah bin Mubarak,
“Sang Penguasa Kerajaan Surga benar-benar adil di dalam penghakimannya.”
“Hal yang diberikan
kepada jiwa seorang muslim lebih disukai Allah daripada seribu kali menunaikan
ibadah haji.” Begitu kata Bisy bin Harits yang merupakan tokoh sufi dari
Baghdad yang terkenal dengan sebutan Si Fakir Tanpa Alas Kaki yang terkenal
dengan nasihat tersebut.
Kisah ini dikutip dari buku Tadzkiratul Auliya
Category Motivation, Renungan, Untuk Seseorang
MY BIG INSPIRATION
0Wednesday, October 1, 2014 by zidniezou
Waktu itu saya jadi pernah
ikut-ikutan rempong dengan kehamilan Kakak saya karena sebagai calon Paman saya
jadi sangat peduli dengan calon keponakan saya nanti. Terinspirasi dari
cara-cara yang dilakukan bangsa Israel yang sangat mempersiapkan kelahiran bayi
dengan sangat hebat, saya ingin ikut mencoba resep sukses mereka dalam mencetak
generasi penerus yang hebat. Bangsa Israel memang terkenal dengan kecerdasannya
karena mereka sangat mempersiapkan generasi penerusnya dengan baik bahkan sejak
masa kandungan. Para wanita hamil disana (katanya) banyak melakukan kegiatan
yang turut serta mendukung pertumbuhan janinnya. Mulai dari membaca buku ilmu
pengetahuan, biografi sosok ilmuwan hebat yang mempengaruhi dunia, sampai
mendengarkan musik kepada bayinya. Ya memang, kata orang Jawa kuno juga bilang
apa yang wanita hamil lakukan saat masa kehamilan akan ada semacam hasil yang
selaras dengan aktivitasnya saat hamil. Makanya biasanya ada benernya juga,
sebagai contoh yang banyak saya lihat adalah anaknya guru sekolah yang kebanyakan
ketika sudah besar jadi cerdas karena mungkin pas lagi hamil, Ibunya sebagai
guru banyak mengajarkan ilmu ke muridnya jadi menurun ke anaknya.
Akhirnya saya pun pergi
ke toko buku untuk sekedar membeli buku bacaan untuk Kakak saya. Yang
terpikirkan oleh saya adalah membelikan buku pengetahuan umum semacam
pengetahuan astronomi, buku biografi ilmuwan dunia, biografi orang sukses, dsb.
Namun sayangnya saya gak menemukan sama sekali buku tersebut dari toko buku
kecil sampe yang besar di mall-mall terkenal. Maklum mungkin dulu biografi
semacam ini belum terlalu banyak, kalau sekarang saya lihat sih sudah mulai
tersedia banyak. Akhirnya sampai juga saya di lorong buku tentang Agama Islam
dan dari situ saya melihat buku Biografi Lengkap Nabi Muhammad SAW. Saya
tertegun melihat buku itu, ketika mulai memegang dan membukanya, saya semakin
deg-degan dan gemetar. Astaghfirullah, kenapa saya gak kepikiran membeli buku
ini? Kenapa saya justru mencari buku biografi pengusaha sukses, ilmuwan hebat,
dan pengetahuan dunia dibandingkan mencari buku biografi Manusia Panutan
seperti beliau? Saya sadari memang, kita mungkin lebih memilih menjadi orang
yang cerdas, kaya raya, sukses, dan berpendidikan tinggi dibandingkan orang
yang tahu tentang agama sendiri. Apalagi, waktu itu saya sedang mengalami masa
labil sebagai remaja yang sedang mencari jati dirinya jadi kurang menyadari hal
ini. Melihat buku ini dan menyadari hal tersebut sebenarnya membuat saya ingin
menangis namun karena keadaan toko buku yang ramai, saya langsung bergegas ke
kasir untuk membelinya.
Yap, memang biasanya
ketika kita ditanya tentang siapa idola yang menginspirasi hidupmu, kita pasti
akan menjawab nama bintang film, penyanyi kondang, ataupun public figure
lainnya. Itupun dengan alasan sebagian besar karena penampilannya. Jarang
sekali ada yang menyebutkan seorang ilmuwan, negarawan, atau mungkin orang tua
mereka bahkan sosok yang berpengaruh terhadap agama mereka. Dulu memang saya
selalu menuliskan sosok idola saya adalah Nabi Muhammad SAW, namun dari
kejadian diatas hanya memperlihatkan kalau saya kurang begitu menghayati apa
yang saya tulis, bahkan kurang meneladani tindakannya. Bagaimana saya bisa
mengidolakan Beliau tanpa tahu riwayat hidupnya secara lengkap. Mungkin karena
pengetahuan saya mengenai sosok Beliau masih sedikit maka dari itu saya mulai
membaca biografi Beliau secara utuh dalam buku yang tebalnya melebihi Alquran.
Saya membaca buku ini dalam waktu lebih dari seminggu karena saking tebalnya
dan juga karena saya punya kesibukan lain.
Saya mengalami
masa-masa labil ketika menduduki bangku kuliah. Masalah hidup yang besar kurang
sepadan dengan pengalaman hidup saya sebelumnya yang masih sedikit dan usia
saya yang masih muda dan sedang mulai labil. Terlebih lagi saya sedang jauh
dari orangtua. Perlu Anda tahu lagi, bahwa saya banyak mengalami banyak
kegagalan dan masalah mulai dari gagal dalam kompetisi, program exchange,
beasiswa hingga beberapa masalah kecil dengan teman/ dosen. I'm experienced in
Failure huhu. Ya memang kejadian ini bikin saya minder dan terpuruk. Namun
untungnya saya mendapatkan buku biografi Nabi Muhammad SAW yang menjadi salah
satu inspirasi besar saya dalam menjalani hidup untuk mengatasi banyak masalah
tadi.
Sebelum masa kenabian
sampai masa akhir kenabian ketika Nabi Muhammad SAW wafat, Beliau banyak sekali
dilanda cobaan hidup dari ditinggal pergi ayahnya ketika masih dalam kandungan,
ditinggal pergi ibunda dan kakeknya ketika remaja, hingga banyak cobaan hidup
lain yang penuh perjuangan ketika masa-masa awal kenabian. Nothing worths
having comes easy juga untuk Manusia semulia Nabi Muhammad SAW. Namun beliau
tidak pernah menyerah dan putus asa serta selalu mendekatkan diri kepada Tuhan
sebagai tempat meminta pertolongan. Nabi Muhammad sampai disebut sebagai orang gila
dan penyair gadungan karena menyebut dirinya sendiri sebagai utusan Tuhan dan
menerima wahyu.
Yang paling saya kagumi
dari kisah beliau adalah perjuangan hidupnya. Bisa dibilang sama seperti
kehidupan saya yang banyak mengalami kegagalan dan sering mengalami ujian
hidup. Namun saya tahu bahwa Tuhan akan mengangkat derajat orang-orang yang
beriman. Ketika orang ingin diangkat derajatnya, pastilah mereka harus
menjalani ujian hidup. Apakah mereka akan senantiasa beriman ketika menghadapi
ujian? Apakah mereka bisa menjalani ujian dan mengatasinya dengan baik? Apakah
mereka berjuang untuk mengatasinya? Ya, jika mereka lulus pastinya Tuhan akan
mengangkat derajat mereka di tempat yang lebih tinggi dan mulia. Sebagai contoh
ketika kita bersekolah, pastinya jika kita ingin naik kelas, kita harus
menjalani ujian akhir semester dengan mengerjakan soal ujian. Kita harus
membekali diri dalam ujian tersebut dengan banyak belajar dan berdoa. Jika kita
lulus ujian, maka kita akan naik kelas. Seperti itulah analogi naik kelas
dengan Tuhan yang mengangkat derajat makhluknya. Jadi ketika kita ditimpa ujian
seberat apapun, kita harus berpikir bahwa Tuhan ingin mengangkat derajat kita
dengan memberikan ujian ini. Kita harus berjuang dan berdoa agar segera lulus
dari ujian ini dengan kerja keras, bukan dengan keluhan ataupun tangisan putus
asa. Kita harus senang dengan ujian ini karena kita akan segera "naik
kelas" jika lulus menjalaninya. Ketika Anda mengeluh dan putus asa dalam
menghadapi ujian ini, maka sepertinya anda ingin "tinggal kelas"
saja, malu bukan? Kemudian kita juga harus belajar bahwa, tidak perlu iri hati
dengan orang yang dengan mudah mendapatkan apa yang dia inginkan tanpa ujian.
Itu berarti bahwa derajatnya tidak diangkat oleh Tuhan. Jadi kenapa harus iri?
Makanya kita harus melihat ke diri kita, mensyukuri apa yang kita punya,
bukannya iri kepada kesuksesan orang lain. Lah wong Nabi aja orang yang mulia
di sisi Tuhan harus mengalami ujian yang berat dalam melaksanakan dakwahnya,
kenapa kita yang manusia biasa gak bisa terhindar dari ujian hidup?
Maka dari itu, ketika
saya menghadapi ujian, saya pasti langsung mengingat sosok inspiratif ini yakni
Nabi Muhammad SAW. Saya yakin bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian diluar
batas kemampuan. Dan sepatutnya saya harus senang karena berarti derajat saya
akan dinaikkan tapi harus diuji dulu. Kita harus mensyukuri apa yang kita punya
sekarang. Terkadang manusia kurang bersyukur dengan apa yang mereka punya
makanya Tuhan memberikan ujian dengan mengambil nikmat yang menyebabkan mereka
mendapatkan masalah. Makanya jika kita bijak menghadapi ujian hidup, kita pasti
akan lebih bijak lagi dalam menghadapi hidup yang tersisa.
Category About Me, Motivation, Untuk Seseorang
Selamat Tinggal, Oma...
0Tuesday, February 26, 2013 by zidniezou
Pagi ini, udara
terasa sangat dingin karena tadi malam hujan deras melanda kota nan sejuk ini.
Seorang nenek tua sedang asik duduk melamun di teras rumahnya sambil memandangi
jalan raya yang tepat berada di depan rumahnya. Terkadang kendaraan yang
melintas menyadarkan lamunannya itu. Sang nenek sedang gundah karena sang suami
sedang jatuh sakit yang sudah dialami 3 hari. Sang kakek mulai sakit setelah
jimat yang ada di tubuhnya diambil. Maklum saja, orang jaman dulu terutama
pejuang seperti kakek biasa memakai ini supaya diberi keselamatan dalam perang
melawan penjajah, antara mitos atau bukan tetapi jimat itu membuat kakek tetap
bertahan hidup sampai usianya sekarang 99 tahun hampir seabad. Jimat yang baru
saja diambil dari tubuh sang kakek sudah dibuang ke sungai, padahal kalau
dijual harganya mencapai ratusan juta karena jimat itu berupa berlian yang
sangat berkilau, apalagi dapat memberikan umur panjang kalau ditanam di tubuh.
Memang bagi orang yang mengutamakan keuntungan pasti menginginkan jimat ini
dijual. Namun demi kebaikan keluarga maka jimat ini dibuang saja sesuai
perintah nenek. Putra-putri nenek pun memahaminya walaupun apabila dijual
mungkin uang warisan mereka bisa lebih banyak.
Sesekali, nenek
terbayang dengan anak sulungnya, Adi, yang sudah lama tidak berjumpa, apalagi dengan
anak-anak si sulung. Putra sulung nenek ini sudah 7 tahun tidak bertemu karena
ada semacam konflik dengan istrinya yang merupakan orang Medan berpaham
Matrilinial yaitu garis keturunan berdasar ibu. Terpikir juga sang nenek dengan
putra keduanya, Didi, yang sakit-sakitan
karena kebiasaan buruknya sendiri. Terlintas juga konflik antara anaknya Anah
dan Mudi yang tak terselesaikan juga mengenai harta waris.
Tiba-tiba Tya,
cucu perempuannya, menemui nenek utuk meminta menjepitkan pita ke rambutnya,
seperti biasanya sebelum Tya berangkat sekolah selalu begitu. Tya merupakan
anak Isti, putri terakhir nenek yang sudah 6 tahun mejadi TKW di Hongkong. Isti
menitipkan Tya kepada ibunya sejak Tya berusia dua tahun. Tya sendiri kadang
tak tahu ibunya, hanya saja nenek selalu memberitahu keberadaan ibunya itu.
Setelah Tya meninggalkan
nenek untuk bersiap-siap berangkat sekolah. Setelah beberapa saat, nenek
melamun kembali dan teringat dengan putranya Ahmad yang sekarang tinggal di
Tegal. Kalau bisa dibilang, Ahmad merupakan anak nenek yang paling berbakti
namun keberadaannya yang jauh dengan nenek membuatnya tidak bisa selalu bersama
nenek. Setiap hampir sebulan sekali anak nenek selalu berkumpul terutama
membahas masalah harta waris mereka. Tapi seperti biasa, putra sulung Nenek
tidak datang begitu juga dengan Isti yang berada di Hongkong.
Seminggu pun
berlalu sejak jimat kakek dikeluarkan. Pagi ini rumah nenek terasa ramai karena keadaan kakek yang sekarat
karena sudah dimakan usia. Para kerabat dekat datang mengunjungi rumah karena
menurut kabar dari Nanang, cucu tertua nenek, keadaan kakek sudah kritis. Nenek
pun tak kuasa terharu melihat kakek yang terbaring lemah. Sampai akhirnya
Innalillahi wainna ilaihi rojiuun, kakek menghembuskan nafas terakhirnya.
Antara lega karena kakek bisa lepas dari penderitannya ataukah harus bersedih
karena telah ditinggal pergi telah
bercampur jadi satu. Namun keputusan untuk mengambil jimat di tubuh kakek
merupakan pertanda kalau kematian untuk kakek adalah hal terbaik.
Adi pun yang
sudah 6 tahun tidak bertemu akhirnya pulang ke rumah, namun istri beserta
anaknya tidak datang. Tidak semua anak nenek datang karena Isti masih berada di
Hongkong. Walaupun nenek merasa sedih karena kekek telah tiada dan Isti tidak
ikut berkumpul, nenek tetap bahagia tak terkira bertemu dengan anak sulungnya.
Kedatangan Adi memang menutup kerinduan nenek, tetapi ternyata Adi hanya bisa
berada disana selama sehari karena pekerjaan yang harus dia lakukan di Jakarta.
Keadaan anak-anak nenek setelah kematian kakek semakin parah, mulai dari
perseteruan tentang harta warisan hingga keadaan Didi yang semakin parah dengan
penyakit diabetesnya. Semua keadaan ini membuat nenek yang sudah tua semakin tidak
berdaya. Seakan-akan nenek yang merindukan masa tua yang tentram melihat
kesuksesan anak-anaknya justru harus pahit karena keadaan sesungguhnya yang
berkebalikan.
Setelah tahun
lalu ditinggal pergi oleh Kakek, salah seorang yang dicintainya, kemudian nenek
harus kehilangan salah satu putranya, Didi. Kondisi Didi yang semakin memburuk
karena penyakitnya ini membuat Didi tak kuasa lagi melawan penyakitnya itu.
Untuk mengobati rasa sedih nenek, Ahmad mengajaknya tinggal di rumah Ahmad
selama beberapa minggu dengan maksud agar Ahmad bisa membujuk nenek agar mau
menikmati hari tuanya dengan dia.
Ahmad merupakan
seorang karyawan kantor yang bekerja dari pagi hingga sore, sedangkan istrinya
bekerja sebagai bendahara salah satu lembaga di desanya. Kesibukan keduanya
membuat nenek merasa kesepian. Adapun putri sulung Ahmad masih kuliah di
Semarang dan putra bungsunya masih SMA. Karena rumah Ahmad yang jauh dari rumah
nenek membuat nenek kurang betah tinggal disini. Apalagi, Tya juga ditinggal di
rumah nenek dengah Anah. Karena dari kecil sudah selalu bersama Tya, nenek
seperti tak bisa jauh dari Tya. Padahal Ahmad ingin sekali mengasuh nenek
semasa hari tuanya.
Seperti biasa
setiap bulan anak-anak nenek selalu berkumpul membahas mengenai warisan mereka.
Pertama-tama mereka menjual rumah nenek dan kakek yang mayoritas dibangun
dengan kayu jati kuno ke kolektor. Setelah itu baru mereka menjual tanah kosong
yang bangunannya sudah dijual terlebih dahulu. Nenek memilih tinggall bersama
Mudi karena Mudi kekeuh tinggal di tanah warisan bagiannya tanpa menjual serta
seluruh tanah milik nenek dan kakek karena ingin mempertahankan peninggalan
orangtuanya.
Waktu demi
waktu, usia nenek yang semakin renta dan perseteruan antara Mudi dan Anah
membuatnya semakin lemah. Pagi itu nenek tiba-tiba pingsan tanpa sebab. Setelah
dibawa ke rumah sakit, dokter memvonisnya terkena paru-paru basah. ICU pun
menjadi satu-satunya pilihan untuk nenek. Setelah dirawat beberapa hari,
kondisi nenek semakin memburuk ditandai dengan tubuh nenek yang mulai memar
terutama bagian wajah. Dokter tidak bisa berusaha banyak. Sampai akhirnya nenek
menghembuskan nafas terakhirnya di ruang ICU itu.....
Category Cerpen, Untuk Seseorang
Nenek Penjual Teh
0by zidniezou
Kudengar adzan subuh
mulai berkumandang, Alhamdulillah sekali aku masih punya alarm otomatis yang
selalu membangunkan tidurku di pagi hari, ya itulah telingaku. Aku memang sudah
lanjut usia namun semua organku masih berfungsi dengan baik. Aku harus cepat
bersiap-siap untuk menjual minuman di depan gerbang Kukusan. Ya, itung-itung
menikmati hari tua, aku gak mau berdiam diri saja di rumah selagi aku bisa
melakukan sesuatu hal yang produktif walaupun aku hanya menjual minuman dari
jam 6 pagi hingga jam 10 pagi saat orang-orang pergi makan pagi.
Tenda biru, itulah nama
tempat aku menjual minuman yang cukup familiar di daerah ini, seperti judul
lagu dari Desi Ratnasari. Tak salah jika di belakang tempat ini ada foto artis
cantik ini sambil berpose menggunakan mic. Daerah Kukusan ini biasa disebut
Kutek, memang terdengar lucu seperti nama perlengkapan dandan wanita untuk
menghiasi kuku, namun Kutek disini sebenarnya adalah singkatan dari Kukusan
Teknik karena letaknya tepat berhadapan dengan Fakultas Teknik. Setiap hari aku
selalu meluangkan waktu dari jam 6 sampai jam 10 pagi, kecuali pada tanggal
merah dan bulan puasa tentunya aku tidak bisa menjalani aktivitas ini.
Aku hanya menjual dua
macam minuman: air putih dan air teh. Namun, dari jualan ini aku mempelajari
bisnis yaitu tentang kebutuhan konsumen. Dari dua macam minuman itu saja, aku
selalu membuat jenis minuman yang berbeda untuk pemesan. Ada yang suka air
putih adem, air putih ditambah es batu, air putih anget-anget kuku, air putih
panas, teh manis adem, teh manis dingin, teh manis anget, teh manis panas, teh
tawar anget, panas, dingin, adem, dsb. Ada juga pelanggan yang suka membawa
gula sendiri yang katanya lebih rendah kalori. Tapi aku gak terlalu memikirkan
itu, selagi pola hidupku sewaktu muda yang tidak terlalu rumit dengan diet ini
itu, aku masih bersyukur sampai saat ini masih bisa bernapas dan menikmati
hidup untuk melihat keturunanku tumbuh dan berkembang.
Pelangganku memang kebanyakan
adalah mahasiswa Teknik. Daerah kontrakan dan kos-kosan di Kutek ini memang
mayoritas ditempati oleh mahasiswa Teknik karena letaknya yang cukup dekat dari
Fakultas Teknik. Walaupun usiaku yang sudah cukup tua, kemampuanku berinteraksi
dengan anak muda masih bisa diandalkan. Aku sering bergurau dengan mereka
tentang sesuatu yang sedang “HOT” bagi anak seumuran mereka seperti Kamseupay,
Fesbuk, bahkan twitter. Ada beberapa pelanggan mahasiswa yang aku anggap
sebagai anakku sendiri. Dia selalu makan pagi disini dengan memesan teh tawar
anget padaku. Aku selalu otomatis memberinya teh tawar anget ini. Beberapa
pelanggan yang dekat denganku sering aku ajak main ke rumah. Aku mempunyai
banyak makanan di rumah terutama makanan tradisional seperti keripik karena aku
senang membuat jajanan ini.
Berbeda dengan tiap
weekend, mayoritas pelanggan adalah orang yang sering jalan-jalan ke kampus,
sekedar melepas rasa kangen mereka sebagai alumni atau ingin berolahraga
menikmati segarnya udara di dekat kota Jakarta yang terkenal dengan polusi.
Walau bagaimana pun aku kesepian di kala siang hingga sore karena anakku yang
paling kecil dan belum menikah harus pergi bekerja sebagai kurir. Namun menjadi
seorang Nenek Penjual Teh membuat pagiku seperti berguna bagi orang lain.
Category Cerpen, Untuk Seseorang
Akhir Hidupku
0Monday, July 30, 2012 by zidniezou
Akhirnya
setelah perjuangan 20 menit yang melelahkan, lahirlah putri keduaku dengan
selamat walaupun ada sedikit kecelakaan kecil yang terjadi. Aku ga enak hati
sendiri dengan Mbak Setyo, kakak perempuanku, karena aku mematahkan dipan
kasurnya selama proses melahirkan putri keduaku ini dengan tinggi 51cm dan
berat 3,4kg.
Sebenarnya
ini adalah putriku yang kelima, ada satu kakaknya perempuan kelas 3 SMP
sedangkan ketiga anakku yang lain sudah menjadi anak surga atau Wildan, sebutan
bagi anak yang lahir keguguran. Ya, aku sangat memperjuangkan kehamilanku yang
kelima ini karena aku sangat sekali memberikan Nuril seorang adik. Sudah tiga
kali aku mengalami keguguran karena penyakit Bronkhitis yang aku idap dari
sejak menikah dengan suamiku. Penyakit
ini membuatku batuk setiap malam sehingga membuat perutku kejang dan akhirnya
mempengaruhi janin di dalamnya.
Memang
seorang wanita adalah sosok yang paling kuat dibandingkan dengan pria. Dari
pengalaman melahirkanku yang kelima ini saja aku bisa tahu bahwa bayi
perempuanku ini bisa lahir selamat sedangkan ketiga anakku yang belum sempat
dilahirkan diketahui semuanya adalah laki-laki. Jadi terbukti bahwa wanita
adalah sosok yang kuat, tak pelak kami menjadi tempat bagi bayi manis untuk
menemui dunia nyata karena mengandung dan melahirkan dan segala tugas wanita
itu hanya bisa dilakukan oleh seorang sosok yang kuat, yaitu wanita.
Selama
hamil ini, aku harus selalu meminum obat penguat janin untuk membuat bayiku
bisa bertahan di kandunganku. Aku juga harus banyak ekstra istirahat sehingga
pekerjaan rumah tanggaku dilakukan oleh suami dan putri sulungku. Badanku kurus
sekali selama hamil ini, aku pun selalu berdoa dan meminta doa kepada orang
agar kehamilanku ini bisa sehat.
Menjalani
Ibu baru bagi anak baruku ini adalah sebuah kebahagiaan sendiri. Aku memang
suka sekali dengan anak-anak bahkan semua keponakan kecilku sangat nurut
denganku, walau yang paling rewel sekalipun. Ibu mertuaku yang selalu menangani
cucunya yang baru lahir pun bisa sedikit santai karena aku bisa mengurus anakku
sendiri dari memandikan, mengenakan baju, menggantikan popok, dll.
Zahra,
panggilan untuk anak mungilku ini sudah tumbuh gigi pada usia 6 bulan. Sebuah
kebanggaan tersendiri namu juga sekarang dia sudah semakin besar dan mulai
merepotkan seperti kebanyakan anak
seusianya. Harus banyak pengawasan, apalagi
Zahra sering jatuh dari tempat tidur walau aku cuma pergi meninggalkan
dia untuk ke toilet. Tubuhku juga mulai menjadi gemuk, terutama bagian pipi
yang terlihat tembem padahal saat hamil hingga melahirkan tidak begini
keadaannya.
Aku
pun berkonsultasi dengan bidan, alangkah terkejutnya ketika aku divonis
mengidap penyakit jantung. Ya, bagaimana tidak hancur hatiku dengan penyakit
baruku ini setelah dulu aku terkena Bronkhitis yang tak kunjung sembuh hingga
sekarang. Bayangkan dua organ vitalku bermasalah padahal aku baru saja berbahagia
dengan kelahiran putri keduaku.
Mengetahui
berita ini membuatku semakin bermasalah saja, ketika salah makan dan kecapekan
pasti kumat. Padahal, Zahra sudah mulai bisa berjalan dan selalu minta turun ke
tanah. Aku harus mengawasinya tiap waktu.mungkin obat penguat yang diberikan
padaku ketika hamil membuat Zahra jadi sangat rewel dan terlalu lincah. Dengan
kondisiku yang sakit ini, hal ini sangat memperparah keadaanku, walaupun
sebenarnya aku sangat bahagia melihat perkembangan putriku. Ya, seorang Ibu
akan selalu menyayangi putrinya apapun yang terjadi. Nuril juga sangat
membantuku menjaga Zahra karena memang dia juga suka dengan anak kecil, apalagi
adik kandungnya.
Tapi
aku juga sangat sedih karena membuat report keluarga dekatku. Suamiku hanya
bekerja sebagai seorang supir dengan penghasilan pas-pasan. Pengobatanku ini
ditanggung oleh ibu mertua dan iparku yang sangat baik sekali kepada keluargaku
dari dulu sejak saya menikah termasuk membantu biaya sekolah Nuril. Padahal,
aku terkadang jarang membantu mereka karena kondisiku dari dulu yang sudah terkena
Bronkhitis ditambah lagi sekarang penyakit jantung.
Ini
mungkin terakhir kali aku berobat ke dokter di Rumah Sakit Umum pada
pertengahan Januari. Kondisiku makin parah. Dokter sudah menyuruhku untuk
opname, namun suamiku menolaknya karena tak ada biaya. Walaupun keluarga
dekatku mau menanggungnya namun aku tidak enak hati sekali dengan mereka yang
sudah sangat baik hari sekali padaku. Ya, mereka memang orang yang
berkecukupan. Sebelumnya dokter menyuruh saya melakukan tiga uji laboratoium:
cek darah, urine, dan jantung. Melihat hasil laboratorium yang cukup 78@#%$%#%
dokter sangat menyarankan aku untuk opname, namun apadaya dengan kondisiku yang
tak mungkin diopname. Akhirnya dokter memberiku obat generic. Ya, mungkin
melihatku tidak mau opname karena masalah biaya, dokter hanya member obat
generic yang cukup terjangkau.
Dengan
keadaan Zahra yang masih bayi dan sedang rewel-rewelnya, peristiwa di rumah
sakit tadi sangat membuatku sedih sekali. Apalagi suamiku sempat mengajakku
pulang karena melihat bon kwitansi cek Labortorium pertama (Cek Darah+Urine)
sebesar kurang lebih 500ribu. Walaupun ada iparku yang mau membiayai demi
kesembuhanku, namun tetap saja saya tidak enak hati. Apalagi, Zahra selalu
menangis kalau aku ajak ke ruang periksa dokter karena melihatku berbaring di
ruang periksa. Dia harus sedikit menahan lapar karena aku harus menjalani
beberapa uji laboratorium.
Awal
Juni ini, keponakanku di Jakarta akan melangsungkan wisudanya. Semua keluarga
di kampung berencana menghadiri acara itu di Jakarta. Aku tidak bisa ikut
kesana karena kondisiku yang semakin memprihatinkan. Aku tinggal di rumah orang
tuaku di kampung sebelah karena suamiku harus menyetir mobil keluarga ke
Jakarta, sedangkan Nuril harus mempersiapkan ujian sehingga akan sangat
merepotkan bagi dia jika aku berada dirumah sendiri.
Gubraaakkk…
mungkin itulah bunyi yang terdengar ketika aku ambruk dari kamar mandi di
belakang rumah masa kecilku. Kesadaranku hilang walaupun aku masih bisa melihat
dan berbicara namun aku tidak bisa mengingat apa yang aku katakan. Pada saat
itu aku baru saja mandi sore. Sejak peristiwa itu aku hanya bisa berbaring di
kamar, ditemani keponakanku dan putri kecilku. Tak kuasa sekali rasanya tubuh
ini untuk bangun, rasanya energiku hanya tersisa untuk bernafas saja. Sampai
pagi hari, keadaanku tetap saja begini. Nuril yang baru saja selesai melaksanakan
ujian semester langsung dipanggil kesini, suami dan mertuaku yang sedang ada di
Jakarta juga diberitahu keluargaku dan mereka langsung pulang kesini, ada kakak
iparku yang tidak ikut karena kasihan dengan keponakanku yang besok akan
diwisuda. Ya, aku memakluminya karena acara wisuda ini merupakan acara sekali
dalam seumur hidup, justru aku menjadi tidak enak hati karena mengacaukan
rencana ini.
Hari
sudah mulai siang, aku sudah tidak bisa mendengar apa-apa lagi tapi kulihat
Nuril ada disebelahku memegang tanganku sambil membaca Al-Quran. Mungkin dia
sedang membacakan surat yasin untukku. Kulihat tanganku sudah membiru, ya
inikah mungkin yang dinamakan sakaratul maut? Aku hanya bisa pasrah. Dua organ
vitalku, jantung dan paru-paru, yang sudah sangat parah kondisinya membuat
tubuhku membiru. Nafasku sudah mulai susah, mungkin energy yang hanya tersisa
untuk bernafas akan habis. Paru-paruku sudah tak bisa memompa oksigen lagi dan
jantungku tak bisa mengalirkan oksigen lagi memompa darah. Kulihat flashback
kehidupanku dari lahir, masa kecil, sekolah, menikah, membina rumah tangga,
hingga kehamilanku. Memang inilah yang dinamakan sakaratul maut?
Akhirnya
pukul 14.15 aku merasakan rasa sakit yang luar biasa, melebihi dari rasa sakit
sebelumnya namun tiba-tiba aku merasakan kedamaian luar biasa setelahnya
seperti aku telah sembuh dari rasa sakitku. Kulihat tubuhku tergeletak di atas
kasur, inikah yang dinamakan kematian? Innaillahi wainna ilaihi rojiun… memang
aku berfirasat akan berakhir seperti ini, namun tak kusangka akan datang
waktunya secepat ini.
Category Cerpen, Untuk Seseorang
Powered by Blogger.





